Admin BBWS - 1 September 2026
Mengerek Efisiensi Infrastruktur Jadi Mesin Pertumbuhan Ekonomi
Kementerian PU mendorong perubahan paradigma pembangunan infrastruktur: bukan sekadar membangun aset, tetapi memastikan setiap infrastruktur memberikan manfaat ekonomi yang nyata dan berkelanjutan bagi masyarakat.
Melalui strategi PU608, Kementerian PU menargetkan ICOR di bawah 6 sebagai indikator efisiensi investasi infrastruktur. Keberhasilan pembangunan tidak hanya diukur dari jumlah jalan, bendungan, atau jaringan irigasi yang selesai, tetapi dari dampaknya terhadap produktivitas pertanian masyarakat, ketahanan pangan, biaya logistik, konektivitas wilayah, dan pertumbuhan ekonomi.
Salah satu kunci utamanya adalah pemeliharaan infrastruktur. Infrastruktur yang terawat dapat memperpanjang usia layanan dan mencegah negara mengeluarkan biaya besar untuk membangun kembali aset yang rusak.
Kementerian PU juga bekerja sama dengan BPS untuk mengukur dampak ekonomi pembangunan secara lebih presisi. Dengan demikian, penggunaan anggaran tidak menghentikan penyerapan dan kemajuan fisik, tetapi harus dapat dibuktikan manfaatnya bagi masyarakat.
Contoh penting terlihat di Bendungan Tanju di Dompu, NTB. Bendungan berkapasitas 17,86 juta m³ dirancang untuk mendukung Daerah Irigasi Tanju seluas 2.242 hektare. Namun manfaat sedimen belum optimal tanpa penyelesaian jaringan irigasi sepanjang 24 km di sisi kanan dan 24 km di sisi kiri.
Pesan utamanya diwujudkan dalam pernyataan Menteri PU Dody Hanggodo:
“Tugas saya sederhana, mengalirkan air hingga ke sawah.”
Artinya, pembangunan bendungan tidak boleh berhenti pada selesainya bangunan fisik. Air harus benar-benar sampai ke lahan pertanian dan menghasilkan manfaat bagi petani.
Infrastruktur yang baik bukan hanya selesai dibangun, tetapi berfungsi, terhubung, terpelihara, dan memberikan dampak nyata bagi masyarakat serta perekonomian.
#SigapMembangunNegeriUntukRakyat
#MengelolaAirUntukNegeri